Senin, 21 Januari 2013

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ENDOCARDITIS



ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
ENDOCARDITIS

1.      PENGERTIAN
Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung. (Wajan Yuni Udjianti, keperawatan kardiovaskuler hal,126)
Endokarditis tidak hanya terjadi pada endokard dan katub yang telah mengalami kerusakan, tetapi juga pada endokard dan katub yang sehat, misalnya penyalahgunaan narkotik perintravena atau penyakit kronik. Perjalanan penyakit ini bisa; akut, sub akut, dan kronik, tergantung pada virulensi mikroorganisme dan daya tahan penderita. Infeksi subakut hampir selalu berakibat fatal, sedangkan hiperakut/akut secara klinis tidak pernah ada, karena penderita meninggal terlebih dahulu yang disebabkan karena sepsis. Endokarditis kronik hampir tidak dapat dibuat diagnosanya, karena gejalanya tidak khas (buku saku KMB burner & suddart)
                                                                                                                 
2.       ETIOLOGI
    Endokarditis paling banyak disebabkan oleh streptokokus viridans yaitu mikroorganisme yang hidup dalam saluran napas bagian atas. Sebelum ditemukan antibiotik, maka 90 - 95 % endokarditis infeksi disebabkan oleh strptokokus viridans, tetapi sejak adanya antibiotik streptokokus viridans 50 % penyebab infeksi endokarditis yang merupakan 1/3 dari sumber infeksi. Penyebab lain dari infeksi endokarditis yang lebih patogen yaitu stapilokokus aureus yang menyebabkan infeksi endokarditis subakut. Penyebab lainnya adalah stertokokus fekalis, stapilokokus, bakteri gram negatif aerob/anaerob, jamur, virus, ragi, dan kandida.

Faktor Predisposisi dan Faktor Pencetus

Faktor predisposisi diawali dengan penyakit-penyakit kelainan jantung dapat berupa penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan, katub jantung prostetik, penyakit jantung sklerotik, prolaps katub mitral, post operasi jantung, miokardiopati hipertrof obstruksi.
Endokarditi infeksi sering timbul pada penyakit jantung rematik dengan fibrilasi dan gagal jantung. Infeksi sering pada katub mitral dan katub aorta. Penyakit jantung bawaan yang terkena endokarditis adalah penyakit jantung bawaan tanpa cianosis, dengan deformitas katub dan tetralogi fallop. Bila ada kelainan organik pada jantung, maka sebagai faktor predisposisi endokarditis infeksi adalah akibat pemakaian obat imunosupresif atau sitostatik, hemodialisis atau peritonial dialisis, serosis hepatis, diabetis militus, penyakit paru obstruktif menahun, penyakit ginjal, lupus eritematosus, penyakit gout, dan penyalahan narkotik intravena.
Faktor pencetus endokarditis infeksi adalah ekstrasi gigi atau tindakan lain pada gigi dan mulut, kateterisasi saluran kemih, tindakan obstretrik ginekologik dan radang saluran pernapasan.

3.      PATOFISIOLOGI
Kuman paling sering masuk melalui saluran napas bagian atas selain itu juga melalui alat genital dan saluran pencernaan, serta pembuluh darah dan kulit. Endokard yang rusak dengan permukaannya tidak rata mudah sekali terinfeksi dan menimbulakan vegetasi yang terdiri atas trombosis dan fibrin. Vaskularisasi jaringan tersebut biasanya tidak baik, sehingga memudahkan mikroorganisme berkembang biak dan akibatnya akan menambah kerusakan katub dan endokard, kuman yang sangat patogen dapat menyebabkan robeknya katub hingga terjadi kebocoran. Infeksi dengan mudah meluas ke jaringan sekitarnya, menimbulkan abses miokard atau aneurisme nekrotik. Bila infeksi mengenai korda tendinae maka dapat terjadi ruptur yang mengakibatkan terjadinya kebocoran katub.
Pembentukan trombus yang mengandung kuman dan kemudian lepas dari endokard merupakan gambaran yang khas pada endokarditis infeksi. Besarnya emboli bermacam-macam. Emboli yang disebabkan jamur biasanya lebih besar, umumnya menyumbat pembuluh darah yang besar pula. Tromboemboli yang terinfeksi dapat teranggkut sampai di otak, limpa, ginjal, saluran cerna, jantung, anggota gerak, kulit, dan paru. Bila emboli menyangkut di ginjal. akan meyebabkan infark ginjal, glomerulonepritis. Bila emboli pada kulit akan menimbulkan rasa sakit dan nyeri tekan.

4.      MANIFESTASI KLINIS
Endokarditis infektif akut lebih sering terjadi pada jantung normal. Penyakit timbul
mendadak. Tanda-tanda infeksi lebih menonjol seperti panas yang tinggi dan menggigil,
jarang ditemukan jari tabuh dan janeway lesions (bercak kemerahan pada telapak tangan dan kaki).  Terdapat tanda-tanda  pada mata berupa ptekia kanjungtiva, perdarahan retina, kebutaan, tanda-tanda endoftalmitis dan panoftalmitis. 
Emboli biasanya lebih sering terjadi dan umumnya menyangkut pada arteri yang lebih besar sehingga menimbulkan infark atau abses paru dan sebagainya. Bising jantung baru atau perubahan bising jantung dapat terjadi. 
Endokarditis infektif subakut hampir selalu mengenai jantung abnormal. Gejala timbul
lebih kurang 2 minggu setelah masa inkubasi. Keluhan umum yang sering dirasa adalah
demam tidak terlalu tinggi, letih, lesu, banyak keringat malam, nafsu makan berkurang,
berat badan menurun, sakit kepala dan sakit sendi. 
Bila terjadi emboli akan timbul keluhan seperti paralisis, sakit dada, hematuria, sakit perut, buta mendadak, sakit pada jari tangan dan sakit pada kulit. 

Demam berlangsung terus-menerus, remiten, intemiten atau sama sekali tidak teratur,
dengan puncak panas 38 – 40oC dan terjadi pada sore atau malam hari. Sering disertai menggigil pada suhu badan yang tinggi, diikuti keringat banyak. Anemia, pembesaran hati
dan limfa dapat terjadi. Gejala emboli dan vaskuler dapat terjadi berupa ptekia pada
mukusa tenggorokan, mata dan juga pada semua bagian kulit, terutama pada dada. Bagian tengah ptekia biasanya lebih pucat dan dapat terjadi pada retina yang disebut Roth’s spot. 

Emboli yang timbul di bawah kuku jari tangan dan kaki berbentuk linear berupa bercak
kemerahan, disebut splinter hemorrhage. Lesi yang lebih spesifik (ada yang mengatakan
patognomonik) adalah Osler’s nodes, yaitu penonjolan kulit berwarna kebiruan/kemerahan
yang memiliki sifat khas berupa rasa nyeri, terdapat pada kulit tangan (tenar dan hipotenar)
dan kaki, terutama pada ujung jari. Emboli besar dapat menimbulkan gangguan syaraf
sentral dan psikiatri, IMA, aneurisma mikotik, sesak nafas, glomerulonefritis, gagal ginjal,
serta infark ginjal. Tanda-tanda kelainan jantung penting untuk menentukan adanya
kelainan katub dan kelainan bawaan. Tanda yang lain adalah sesak nafas, takikardi,
aritmia, sianosis atau jari tabuh. Pada stadium akhir terjadi gagal jantung dan lebih sering
terjadi pada insufisiensi mitral dan aorta.

5.      PENGOBATAN
Pemberian obat yang sesuai dengan uji resistensi dipakai obat yang diperkirakan sensitif terhadap mikroorganisme yang diduga.   Bila penyebabnya streptokokus viridan yang sensitif terhadpa penicillin G , diberikan dosis 2,4 - 6 juta unit per hari selama 4 minggu, parenteral untuk dua minggu, kemudian dapat diberikan parenteral / peroral penicillin V karena efek sirnegis dengan streptomicin, dapat ditambah 0,5 gram tiap 12 jam untuk dua minggu .  Kuman streptokokous fecalis (post operasi obs-gin) relatif resisten terhadap penisilin sering kambuh dan resiko emboli lebih besar  oleh karena itu digunakan penisilin bersama dengan gentamisin yang merupakan obat pilihan. Dengan dosis penisilin G 12 - 24 juta unit/hari,dan gentamisin 3 - 5 mg/kgBB dibagi dalam 2 - 3 dosis. Ampisilin dapat dipakai untuk pengganti penisilin G dengan dosis 6 - 12 gr/hari . Lama pengobatan 4 minggu dan dianjurkan sampai 6 minggu. Bila kuman resisten dapat dipakai sefalotin 1,5 gr tiap jam (IV) atau nafcilin 1,5 gr tiap 4 jam atau oksasilin 12 gr/hari atau vankomisin 0,5 gram/6 jam, eritromisin 0,5 gr/8 jam lama pemberian obat adalah 4 minggu. Untuk kuman gram negatif diberikan obat golongan aminoglikosid : gentamisin 5 - 7 mg/kgBB per hari, gentamisin sering dikombinsaikan dengan sefalotin, sefazolia 2 - 4 gr/hari , ampisilin  dan karbenisilin. Untuk penyebab jamur  dipakai amfoterisin B 0,5 - 1,2 mg/kgB per hari (IV) dan flucitosin 150 mg/Kg BB per hari peroral dapat dipakai sendiri atua kombinasi. Infeksi yang terjadi katub prostetik tidak dapat diatasi oleh obat biasa, biasanya memerlukan tindakan bedah. Selain pengobatan dengan antibiotik penting sekali mengobati penyakit lain yang menyertai seperti : gagal Jantung . Juga  keseimbangan elektrolit, dan  intake yang cukup .
Pencegahan
    Faktor predisposisi sebaiknya diobati (gigi yang rusak, karies,selulitis dan abses).
   
6.      ASUHAN KEPERAWATAN
A.   Pengkajian
Ø  AKTIVITAS/ISTIRAHAT
§  Gejala : kelelahan, kelemahan.
§  Tanda  : tachy cardi, penurunan takanan darah, dispnea dengan aktivitas.

Ø  SIRKULASI
§  Gejala : riwayat demam reumatik, penyakit jantung congenital, IM, bedah jantung (CABG/penggantian katup/bypass kardiopulmonal lama, palpitasi, jatuh pingsan).
§  Tanda : takikardia, distritmia.
o   Perpindahan TIM (titik impuls maksimal) kiri dan inferior (pembesaran jantung).
o   Friction rub pericardia, (biasanya intermiten, terdengar di batas sterna kiri).
o   Murmor aortic, mitra, stenosis/insufisiensitrikuspid, perubahan dalam murmur yang mendahului, disfungsi otot papilar.
o   Irama gallop(S3/S4). Bunyi jantung normal pada awal perikarditis akut.
o   Edema, DVJ (GJK)
o   Petekie (konjungtiva, membrane mukosa).
o   Hemoragi splinter (punggung kuku).
o   Nodus Osler (jari/ibu jari)
o   Lesi Janeway (telapak tangan, telapak kaki).

Ø  ELIMINASI
§  Gejala : riwayat penyakit ginjal/gagal ginjal, penurunan frekuensi/jumlah urin.
§  Tanda  : urine pakat gelap

Ø  NYERI/KETIDAK NYAMANAN
§  Gejala : nyeri pada dada anterior (sedang sampai berat/tajam) diperberat oleh inspirasi, batuk, garakan menelan, berbaring, hilang dengan duduk, bersandar  ke depan (perikarditis). Tidak hilang dengan nitrogliserin.
Nyeri dada/punggung/sendi (endokarditis).
§  Tanda  : perilaku distraksi misalnya gelisah.

Ø  PERNAPASAN
§  Gejala : napas pendek, napas pendek kronis memburuk pada malam hari
                      (miokarditis).
§  Tanda : dispnea, dispneanokturnal, Batuk, Takipnea, krekels dan ronki. Pernapasan dangkal.

Ø  KEAMANAN
§  Gejala : riwayat infeksi virus, bakteri, jamur (miokarditis, trauma dada, penyakit)
o    Keganasan/iradiasi torakal, dalam penanganan gigi, pemeriksaan
o    Endoskopik terhadap system GI/GU.
o    Penurunan system imun misalnya program terapi imunosupresi.
o    SLE, atau penyakit kolagen lain.
§  Tanda : demam.
(kutipan: marlynn E doenges,RENPRA edisi 3 halaman 129-130)

B.   Diagnosa Keperawatan
  1. . Nyeri berhubungan dengan efek-efek sistemik dari infeksi.
Intervensi
Rasional
*      MANDIRI:
1.   Selidiki keluhan nyeri dada. Perhatikan petunjuk nonverbal dari ketidaknyamanan.
2.   Berikan lingkungan yang tenang dan tindakan kenyamanan, misal: perubahan posisi, gosokkan punggung, penggunaan kompres hangat/dingin.
3.   Berikan aktivitas hiburan yang tepat.


*      KOLABORATIF:
1.   Berikan obat-obatan sesuai indikasi.
2.   Berikan O2 suplemen sesuai indikasi.

1.   Nyeri dada dapat dan mungkin tidak menyertai endokarditis tergantung adatidaknya iskemia.
2.   Tindakan ini dapat menurunkan ketidaknyamanan fisik dan emosional pasien
3.   Mengarahkan kembali perhatian,memberikan distraksi dalam tingkat aktivitas individu
1.   Dapat menghilangkan nyeri,menurunkan respons inflamasi
2.   Memaksimalkan ketersediaan O2 untuk menurunkan beban kerja jantung dan mencegah iskemia
     (kutipan: marlynn E doenges,RENPRA edisi 3 halaman 129-130)

  1. Resiko terhadap penurunan curah jantung b/d gangguan pada katup jantung dan endotelium
Intervensi
Rasional
*      MANDIRI:
1.    Pantau frekuensi/irama,bunyi jantung

2.    Berikan tindakan kenyamanan misalnya gosokan punggung,posisi semi fowler dan hiburan
*      KOLABORATIF:
1.    Berikan obat sesuai indikasi

1.    Takikardi dan distrimia dapat terjadi saat jantung berupaya untuk meningkatkan curahnya,berespons pada deman,hipoksia dan iskemia
2.    Meningkatkan relaksasi dan mengarahkan kembali perhatian


1.meningkatkan kontraksi ventrikel
(kutipan: marlynn E doenges,RENPRA edisi 3 halaman 129-130)
  1. Perubahan suhu tubuh yang berhubungan dengan proses infeksi.
Intervensi
Rasional
*      MANDIRI:
1. Kaji adanya dehidrasi, diaforesis, turgor kulit jelek, membran mukosa kering.
2. Ukur suhu tubuh 4 – 8 jam.
3. Pantau masukan dan haluaran cairan setiap 8 jam.
4. Pantau sisi IV adanya kemerahan dan bengkak, ganti tempat setiap 24 jam.
*      KOLABORATIF:
1. Berikan antibiotik antipiretik sesuai pesanan, pastikan obat diberikan sesuai pada waktunya..

1.  Peningkatan panas menyebabkan   pengeluaran cairan melalui evavorasi
2.  Menunjang diagnose lebih lanjut
3.  Mengetahui keseseimbangan cairan saat peningkatan suhu
4.  Mencegah terjadinya phlebitis


1.  Membantu menurunkan suhu tubuh karena proses infeksi


(kutipan: marlynn E doenges,RENPRA edisi 3 halaman 129-130)

  1. Resiko gangguan perfusi jaringan yang berhubungan dengan embolisasi
Intervensi
Rasional
*      MANDIRI:
1.      Kaji adanya tanda embolisasi setiap shift, laporkan adanya tanda embolisasi pada dokter dengan segera.
2.      Lakukan pemeriksaan neurologis setiap shift atau sesuai kondisi klien.
3.       Instruksikan klien tentang perlunya meneruskan antikoagulan, jika dipesankan untuk mencegah periode embolik lanjut.
4.      Dorong latihan aktif dengan rentang gerak sesuai toleransi

*      KOLABORATIF:
1.    Berikan terapi antikoagulan.



1.      Adanya Emboli menyebabkan penyumbatan aliran darah sehingga terjadi hipoksia jaringan
2.      Membantu penegakkan diagnose selanjutnya.
3.      Mengurangi pembentukan embolisme karena pembekuan sel-sel darah
4.      Meningkatkan sirkulasi perifer dan aliran balik vena untuk mengurangi pembentukan emboli dan thrombus

1.      Digunakan secara profilaksis untuk pasien tirah baring

(kutipan: marlynn E doenges,RENPRA edisi 3 halaman 129-130)

c.    EVALUASI
1. Nyeri berhubungan dengan efek-efek sistemik dari infeksi.
§  Melaporkan nyeri hilang/terkontrol.
§   Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas pengalih sesuai indikasi untuk situasi individual.
§  Mengidentifikasi metide yang memberi penghilangan.


2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan faktor biologi (demam, infeksi).
§   Status nutrisi dipertahankan/ diperbaiki.
§   Pencapaian perbaikan berat badan sesuai usia, jenis kelamin.
§   Klien mengungkapkan nafsu makan meningkat.

3. Perubahan suhu tubuh yang berhubungan dengan proses infeksi.
§   Proses inflamasi telah hilang.
§    Kulit lembab dan kering.

4. Potensial perubahan perfusi jaringan serebral yang berhubungan dengan embolisasi
§  Perfusi jaringan serebral dipertahankan.
§  Klien sadar dan berorientasi.
§  Tidak ada tanda-tanda embolisasi.
5.   Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit.
§  Menyatakan pemahaman tentang proses inflamasi, kebutuhan pengobatan, dan kemungkinan komplikasi.
§   Mengidentifikasi /melakukan pola hidup yang perlu atau perubahan perilaku untuk mencegah terulangnya / terjadinya komplikasi.
(kutipan: marlynn E doenges,RENPRA edisi 3 halaman 129-130)



PENUTUP

  1. Kesimpulan
            Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung.mempunyai cirri yang hamper sama dengan perikarditis dan myocarditis.diagnosa keperawatannya dapat di tegakkan melalui pemeriksaan fisik dan diagnostic.penyakit ini dapat di obati dengan pengobatan medis seperti antibiotic dan antipiretik sesuai indikasi dan bakteri penyebabnya.

  1. Saran
            Penulis berharap dengan makalah ini, semoga mahasiswa dapat mengerti konsep medis pada pasien  endokarditis  dan paham bagaimana patofisiologi yang terjadi. sehingga bisa berpikir kritis dalam melakukan tindakan keperawatan.
  

DAFTAR PUSTAKA

Marlynn E doenges,2002,rencana asuhan keperawatan:Jakarta,EGC
Wajan yuni udjiyanti,2010,keperawatan kardivaskuler,Jakarta,salemba medika
Http://httpyasirblogspot.com/2009/09/askep/endokarditis.html