ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN PENGLIHATAN;
KATARAKS & GLAUKOMA
KATARAKS
A.
DEFENISI
Katarak adalah istilah kedokteran untuk setiap keadaan
kekeruhan yang terjadi pada lensa mata yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa atau dapat juga akibat dari
kedua-duanya. Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif. Katarak
menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa yang
keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur
pada retina. Jumlah dan bentuk kekeruhan pada setiap lensa mata dapat
bervariasi.
Katarak merupakan keadaan dimana terjadi kekeruhan pada
serabut atau bahan lensa di dalam kapsul mata. Katarak adalah suatu keadaan
patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau
denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme
normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu. Katarak dapat
terjadi pada saat perkembangan serat lensa masih berlangsung atau sesudah serat
lensa berhenti dalam perkembangannya dan telah memulai proses degenerasi.
Katarak mengakibatkan pengurangan visus oleh suatu
tabir/layar yang diturunkan di dalam mata, seperti melihat air terjun.
Penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa yang keruh cahaya
sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina.
Jumlah dan bentuk kekeruhan pada setiap lensa mata dapat bervariasi.
B. ETIOLOGI
·
Ketuaan
( Katarak Senilis )
Sebagian
besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia
seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada usia 60 tahun keatas.
·
Trauma
Cedera
mata dapat mengenai semua umur seperti pukulan keras, tusukan benda, terpotong,
panas yang tinggi, dan bahan kimia dapat merusak lensa mata dan keadaan ini
disebut katarak traumatik.
·
Penyakit
mata lain ( Uveitis )
·
Penyakit
sistemik ( Diabetes Mellitus )
·
Defek
congenital
C.
KLASIFIKASI
Berdasarkan
garis besar katarak dapat diklasifikasikan dalam golongan berikut :
1. Katarak perkembangan ( developmental
) dan degenerative.
2. Katarak trauma : katarak yang
terjadi akibat trauma pada lensa mata.
3. Katarak komplikata (sekunder) :
penyakit infeksi tertentu dan penyakit seperti DM dapat mengakibatkan timbulnya
kekeruhan pada lensa yang akan menimbulkan katarak komplikata.
4. Berdasarkan usia pasien, katarak
dapat di bagi dalam :
a.
Katarak
kongeniatal : katarak yang di temukan pada bayi ketika lahir (sudah terlihat
pada usia di bawah 1 tahun)
b.
Katarak
juvenil : katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun dan di bawah usia 40 tahun
c.
Katarak
presenil, yaitu katarak sesudah usia 30-40 tahun
d.
Katarak
senilis : katarak yang terjadi pada usia lebih dari 40 tahun. Jenis katarak ini
merupakan proses degeneratif ( kemunduran ) dan yang paling sering ditemukan.
D.
PATOFISIOLOGI
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang
jernih, transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi
yang besar.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan
hilangnya transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula)
yang memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa.
Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga
mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Proses
ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar.
Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada
kebanyakan pasien yang menderita katarak.
Katarak bisa terjadi bilateral, dapat disebabkan oleh
kejadian trauma atau sistemis (diabetes) tetapi paling sering karena adanya
proses penuaan yang normal. Faktor yang paling sering berperan dalam
terjadinya katarak meliputi radiasi sinar UV, obat-obatan, alkohol, merokok,
dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu yang
lama.
E. MANIFESTASI KLINIS
Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subjektif. Klien melaporkan
penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan fungsional sampai
derajat tertentu yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan. Temuan objektif
biasanya meliputi pengembunann sehingga retina tak akan tampak dengan
oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan
bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina.
Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur atau redup, menyilaukan dengan distorsi
bayangan dan susah melihat di malam hari. Pupil yang normalnya hitam akan tampak
abu-abu atau putih. Penglihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan
akan bertambah putih. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan
tampak benar-benar putih ,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif.
Katarak biasanya terjadi bertahap selama bertahun-tahun dan
ketika katarak sudah sangat memburuk lensa yang lebih kuat pun tidak akan mampu
memperbaiki penglihatan. Gejala umum gangguan katarak meliputi :
- Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
- Peka terhadap sinar atau cahaya.
- Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).
- Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
- Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
Gangguan penglihatan bisa berupa :
·
Kesulitan
melihat pada malam hari
·
Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau
cahaya terasa menyilaukan mata
·
Penurunan
ketajaman penglihatan ( bahkan pada siang hari )
·
Penglihatan
sering pada salah satu mata.
·
Kadang
katarak menyebabkan pembengkakan lensa dan peningkatan tekanan di dalam mata (
glukoma ) yang bisa menimbulkan rasa nyeri.
F. KOMPLIKASI
Ambliopia sensori, penyulit yg terjadi berupa : visus tdk
akan mencapai 5/5
Komplikasi yang terjadi : nistagmus dan strabismus. dan bila katarak dibiarkan maka akan mengganggu penglihatan dan akan dapat menimbulkan komplikasi berupa Glaukoma dan Uveitis.
Komplikasi yang terjadi : nistagmus dan strabismus. dan bila katarak dibiarkan maka akan mengganggu penglihatan dan akan dapat menimbulkan komplikasi berupa Glaukoma dan Uveitis.
G.
PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK
Pemeriksaan
diagnostik yang dilakukan pada penderita katarak adalah sebagai berikut :
·
Kartu
mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan kerusakan kornea,
lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi, penyakit sistem saraf,
penglihatan ke retina.
·
Lapang
Penglihatan : penurunan mungkin karena massa tumor, karotis, glukoma.
·
Pengukuran
Tonografi : TIO (12 – 25 mmHg)
·
Pengukuran
Gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glukoma.
·
Tes
Provokatif : menentukan adanya/ tipe glukoma
·
Oftalmoskopi
: mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optik, papiledema,
perdarahan.
·
Darah
lengkap, LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi. EKG, kolesterol serum,
lipid
·
Tes
toleransi glukosa : kontrol DM
·
Keratometri.
·
Pemeriksaan
lampu slit.
·
A-scan
ultrasound (echography).
·
Penghitungan
sel endotel penting u/ fakoemulsifikasi & implantasi
·
USG
mata sebagai persiapan untuk pembedahan katarak.
H.
PENATALAKSANAAN
Adapun
penatalaksanaan pada saat post operasi antara lain :
a)
Pembatasan
aktivitas
b)
Tidur
dengan perisai pelindung mata logam pada malam hari; mengenakan kacamata pada
siang hari
c)
Ketika
tidur, berbaring terlentang atau miring pada posisi mata yang tidak dioperasi,
dan tidak boleh telengkup
d)
Aktivitas
dengan duduk
e)
Mengenakan
kacamata hitam untuk kenyamanan
f)
Berlutut
atau jongkok saat mengambil sesuatu dari lantai
ASUHAN KEPERAWATAN
A.
PENGKAJIAN
a.
Aktivitas/Istrahat
Gejala: Perubahan aktivitas
biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan
b.
Neurosensori
Gejala: Gangguan penglihatan (kabur/tak
jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan
perifer, kesulitan memfokuskasn kerja dengan dekat atau merasa di ruang gelap.
Perubahan pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.
Tanda: Tampak kecoklatan atau
putih susu pada pupil. Peningkatan air mata.
c.
Nyeri/Kenyamanan
Gejala: Ketidaknyamanan ringan atau
mata berair
d.
Pembelajaran/Pengajaran
Gejala: Riwayat keluarga diabetes,
gangguan sistem vaskuler. Riwayat stres, alergi, gangguan vasomotor (contoh:
peningkatan tekanan vena), ketidakseimbangan endokrin, diabetes. Terpajan pada
radiasi, steroid/toksisitas fenotiazin.
e.
Pertimbangan rencana pemulangan
DRG
menunjukkan rerata lamanya dirawat: 4,2 hari (biasanya dilakukan sebagai
prosedur pasien rawat jalan). Memerlukan bantuan dengan transportasi,
penyediaan makanan, perawatan/pemeliharaan rumah.
f.
Prioritas Keperawatan
-
Mencegah penyimpangan penglihatan lanjut
-
Meningkatkan adaptasi terhadap perubahan atau penurunan ketajaman penglihatan
-
Mencegah komplikasi
-
memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan
g.
Tujuan Pemulangan
-
Penglihatan dipertahankan pada tingkat sebaik mungkin
-
Pasien mengatasi situasi dengan tindakan positif
-
Komplikasi dicegah atau diminimalkan
-
Proses penyakit atau prognosis dan program terapi dipahami
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan persepsi sensori-perseptual
penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori/status organ indera.
2. Resiko tinggi terhadap cedera
berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan – kehilangan vitreus,
pandangan kabur, perdarahan intraokuler.
3. Kurang pengetahuan tentang kondisi,
prognosis, pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi, kurang
terpajan dan mengingat, keterbatasan kognitif.
4. Nyeri berhubungan dengan trauma
insisi.
5. Defisit perawatan diri yang
berhubungan dengan kerusakan penglihatan.
C. INTERVENSI
1.
Gangguan persepsi sensori : penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan
sensori/status organ indera.
Tujuan
:
Meningkatkan
ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu, mengenal gangguan sensori
dan berkompensasi terhadap perubahan.
Kriteria
Hasil :
a. Mengenal gangguan sensori dan
berkompensasi terhadap perubahan.
b. Mengidentifikasi/memperbaiki
potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi
:
· Tentukan ketajaman penglihatan,
kemudian catat apakah satu atau dua mata terlibat. Observasi tanda-tanda
disorientasi.
Rasional : Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi
resiko kerusakan lebih lanjut.
· Orientasikan klien tehadap
lingkungan.
Rasional
: Meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan.
· Perhatikan tentang suram atau
penglihatan kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi bila menggunakan tetes
mata.
Rasional
: Cahaya yang kuat menyebabkan rasa tak nyaman setelah penggunaan tetes mata
dilator
· Letakkan barang yang
dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam jangkauan/posisi yang tidak dioperasi.
Rasional
: Komunikasi yang disampaikan dapat lebih mudah diterima dengan jelas.
2.
Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan
kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler.
Tujuan:
Menyatakan
pemahaman terhadap factor yang terlibat dalam kemungkinan cedera.
Kriteria
hasil :
a. Menunjukkan perubahan perilaku, pola
hidup untuk menurunkan factor resiko dan untuk melindungi diri dari cedera.
b.Mengubah lingkungan sesuai dengan
indikasi untuk meningkatkan keamanan.
Intervensi
:
·
Diskusikan
apa yang terjadi tentang kondisi paska operasi, nyeri, pembatasan aktifitas,
penampilan, balutan mata.
Rasional : Kondisi mata post operasi mempengaruhi visus
pasien
·
Beri
klien posisi bersandar, kepala tinggi, atau miring ke sisi yang tak sakit
sesuai keinginan.
Rasional : Posisi menentukan tingkat kenyamanan pasien.
·
Batasi
aktifitas seperti menggerakan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membongkok.
Rasional : Aktivitas berlebih mampu meningkatkan tekanan
intra okuler mata
·
Ambulasi
dengan bantuan : berikan kamar mandi khusus bila sembuh dari anestesi.
Rasional : Visus mulai berkurang, resiko cedera semakin
tinggi.
·
Minta
klien membedakan antara ketidaknyamanan dan nyeri tajam tiba-tiba, Selidiki
kegelisahan, disorientasi, gangguan balutan.
Rasional : Pengumpulan Informasi dalam pencegahan
komplikasi
3.
Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan berhubungan dengan
tidak mengenal sumber informasi, kurang terpajan dan mengingat, keterbatasan
kognitif.
Tujuan
:
Klien
menunjukkan pemahaman tentang kondisi, proses penyakit dan pengobatan.
Kriteria
Hasil :
Melakukan
dengan prosedur benar dan menjelaskan alasan tindakan.
Intervensi
:
· Pantau informasi tentang kondisi
individu, prognosis, tipe prosedur, lensa.
Rasional
: Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusakan
lebih lanjut.
· Tekankan pentingnya evaluasi
perawatan rutin, beritahu untuk melaporkan penglihatan berawan.
Rasional
: Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusakan
lebih lanjut.
· Identifikasi tanda/gejala memerlukan
upaya evaluasi medis, misal : nyeri tiba-tiba.
Rasional
: Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusakan
lebih lanjut.
· Anjurkan klien menghindari membaca,
berkedip, mengangkat berat, mengejan saat defekasi, membongkok pada panggul,
dll.
Rasional
: Aktivitas-aktivitas tersebut dapat meningkatkan tekanan intra okuler.
· Anjurkan klien tidur terlentang
Rasional
: Tidur terlentang dapat membantu kondisi mata agar lebih nyaman.
4. Nyeri berhubungan dengan trauma
insisi
Tujuan
:
Nyeri
berkurang / hilang
Kriteria
Hasil:
a. Klien tampak lebih rileks
b. Klien mengatakan bahwa nyeri yang
dirasakan sudah berkurang / hilang
c. Skala nyeri adalah 1
Intervensi
:
· Kurangi tingkat pencahayaan
Rasional
: Pencahayaan lebih rendah pada kondisi post pembedahan akan membantu
mengurangi rasa nyeri
· Bantu penggunaan kaca mata yang
hitam pada cahaya yang terlalu terang.
Rasional
: Cahaya yang kuat menyebabkan rasa tak nyaman setelah penggunaan tetes mata
dilator
· Kolaborasikan pemberian analagesik
Rasional
: Untuk membantu mengurangi rasa nyeri
5. Defisit perawatan diri yang
berhubungan dengan kerusakan penglihatan.
Tujuan
:
Klien
lebih mampu memenuhi perawatan diri
Intervensi
:
· Beri instruksi kepada pasien atau
orang terdekat mengenal tanda atau- gejala komplikasi yang harus dilaporkan
segera kepada dokter.
Rasional
: Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusakan
lebih lanjut.
· Berikan instruksi lisan dan tertulis
untuk pasien dan orang yang berati mengenal teknik yang benar memberikan obat.
Rasional
: Pemakaian teknik yang benar akan mengurangi resiko infeksi dan cedera
mata.
· Evaluasi Perlunya bantuan setelah
pemulangan.
Rasional
: Sumber daya harus tersedia untuk layanan kesehatan, pendampingan dan teman
di rumah
· Ajari pasien dan keluarga teknik
panduan penglihatan.
Rasional
: Memungkinkan tindakan yang aman dalam lingkungan.
GLAUKOMA
A.
Definisi
Glaukoma
Menurut Herman tahun 2010, glaukoma merupakan suatu kumpulan
penyakit yang mempunyai karakteristik umum neuropatik yang berhubungan dengan
hilangnya fungsi penglihatan. Walaupun kenaikan tekanan intra okuler adalah
satu dari resiko primer, ada atau tidaknya faktor ini tidak merubah definisi
penyakit.
Normalnya,
tekanan intraokular adalah 10-20 mmHg. Jika hasil pemeriksaan tekanan bola mata
lebih dari 20, maka kita patut curiga terhadap adanya glaukoma. Apabila hasil
menunjukkan angka lebih dari 25, maka dipastikan orang tersebut terkena
glaukoma.
Glaukoma
biasanya diderita oleh klien yang berumur di atas 40 th. Pada orang yang
memiliki kecenderungan hereditas glaukoma dalam keluarganya, mereka harus
melakukan pengukuran tonometri ritin setiap hari.(Luckman, 1980).
Pendapat
yang lain mengatakan bahwa Glaukoma adalah suatu penyakit dimana tekanan di
dalam bola mata meningkat, sehingga terjadi kerusakan pada saraf
optikus dan menyebabkan penurunan fungsi penglihatan. (Anonim,2009)
Dari
beberapa definisi glaukoma diatas, dapat disimpulkan bahwa glaukoma adalah
penyakit mata yang terjadi karena peningkatan tekanan bola mata dan
mempengaruhi kepekaan atau kejelasan penglihatan.
B.
Tipe
Glaukoma
Ada
beberapa tipe glaukoma dan dapat di klasifikasikan sebagai berikut :
1. Glaukoma Primer Dewasa, meliputi:
§ - Glaukoma Sudut Terbuka / Kronis
Glaukoma jenis ini umumnya terjadi
karena keturunan. Glaukoma jenis ini sering terjadi pada orang yang mempunyai
sudut ruang terbuka yang normal tapi mempunyai resistensi aliran aquous humor
keluar dari ruang sudut.
§ - Glaukoma Sudut Tertutup
Ada kesalahan tempat yang maju dari
ujung akar dan gulungan iris yang melawan kornea.
2. Glaukoma Sekunder
Glaukoma
ini biasa di bangun dari banyak sebab seperti uveitis, gangguan neuvaskuler,
trauma tumor, penyakit degenerasi mata, dll.
3. Glaukoma Kongenital
Glaukoma ini terjadi di mata selama
ada dalam masa awal tumbuh dan berkembang. Biasanya terlihat selama 6 bulan
kelahiran.
4. Glaukoma Absolut
Glaukoma ini biasanya adalah hasil
dari beberapa kejadian glaukoma dan itu berarti mengarah pada kebutaan yang
mana tekanan intraokuler meningkat.
Aqueous humor adalah cairan
pada bola mata yang di produksi oleh badan siliari yang merupakan kristal
jernih.
C.
Etiologi
dan Patofisiologi
Ada
beberapa sebab dan faktor yang beresiko terhadap terjadinya glaukoma.
Diantaranya adalah:
1.
Umur
Risiko glaukoma bertambah tinggi
dengan bertambahnya usia. Terdapat 2% dari populasi usia 40 tahun yang terkena
glaukoma. Angka ini akan bertambah dengan bertambahnya usia.
2.
Riwayat
anggota keluarga yang terkena glaucoma
Untuk glaukoma jenis tertentu,
anggota keluarga penderita glaukoma mempunyai resiko 6 kali lebih besar untuk
terkena glaukoma. Resiko terbesar adalah kakak-beradik kemudian hubungan orang
tua dan anak-anak.
3.
Tekanan
bola mata
Tekanan bola mata diatas 21 mmHg
berisiko tinggi terkena glaukoma. Meskipun untuk sebagian individu, tekanan
bola mata yang lebih rendah sudah dapat merusak saraf optik. .
Aqueous
diproduksi oleh epitel tidak berpigmen dari prosesus siliaris, yang merupakan
bagian anterior dari badan siliar. Aqueous humor kemudian mengalir melalui
pupil ke dalam kamera okuli anterior, memberikan nutrisi kepada lensa, iris dan
kornea. Drainase aqueous melalui sudut kamera anterior yang mengandung jaringan
trabekular dan kanal Schlemm dan menuju jaringan vena episklera. (Barbara,
1999)
Perjalanan
aliran aqueous humor 80-90% melalui jaringan trabekular, namun terdapat 10%
melalui ciliary body face, yang disebut jalur uveoskleral.
Berdasarkan
fisiologi dari sekresi dan ekskresi cairan aqueous, maka terdapat tiga faktor
utama yang berperan dalam meningkatnya tekanan intraokular, antara lain:
- Kecepatan produksi aqueous humor oleh badan siliar
- Resistensi aliran aqueous humor melalui jaringan trabekular dan kanal Schlemm
- Tekanan vena episklera
Tekanan
intraokular normal yang secara umum diterima adalah 10-21 mmHg.
D.
Manifestasi
Klinis Glaukoma
Menurut
Harnawartiaj (2008) umumnya dari riwayat keluarga ditemukan anggota keluarga
dalam garis vertical atau horizontal memiliki penyakit serupa, penyakit ini
berkembang secara perlahan namun pasti, penampilan bola mata seperti normal dan
sebagian besar tidak menampakan kelainan selama stadium dini. Pada stadium
lanjut keluhan klien yang mincul adalah sering menabrak akibat pandangan yang
menjadi jelek atau lebih kabur, lapangan pandang menjdi lebih sempit hingga
kebutaan secara permanen. Gejala yang lain adalah:
- Mata merasa dan sakit tanpa kotoran.
- Kornea suram.
- Disertai sakit kepala hebat terkadang sampai muntah.
- Kemunduran penglihatan yang berkurang cepat.
- Nyeri di mata dan sekitarnya.
- Udema kornea.
- Pupil lebar dan refleks berkurang sampai hilang.
- Lensa keruh.
Menurut
Sidharta Ilyas (2004) glaucoma akan memperlihatkan gejala sebagai berikut:
- Tekanan bola mata yang tidak normal
- Rusaknya selaput jala
- Menciutnya lapang penglihatan akibat rusaknya selaput jala yang dapat
- Berakhir dengan kebutaan
E. Penatalaksanaan Glaukoma
Tujuan
utama terapi glaukoma adalah dengan menurunkan tekanan intraokular serta
meningkatkan aliran humor aquos (drainase) dengan efek samping yang minimal.
Penanganannya meliputi:
1. Penatalaksanaan Medis
§ Glaukoma Primer
a) Pemberian tetes mata Beta
blocker (misalnya timolol, betaxolol, carteolol, levobunolol atau metipranolol)
yang kemungkinan akan mengurangi pembentukan cairan di dalam mata dan TIO.
b) Pilocarpine untuk
memperkecil pupil sehingga iris tertarik dan membuka saluran yang tersumbat.
c) Obat lainnya yang juga
diberikan adalah epinephrine, dipivephrine dan carbacol (untuk memperbaiki
pengaliran cairan atau mengurangi pembentukan cairan)
d) Minum larutan gliserin dan
air biasa untuk mengurangi tekanan dan menghentikan serangan glaukoma.
e) Bisa juga diberikan inhibitor
karbonik anhidrase (misalnya acetazolamide).
f) Pada kasus yang berat, untuk
mengurangi tekanan biasanya diberikan manitol intravena (melalui
pembuluh darah).
§ Glaukoma sekunder
Pengobatan glaukoma sekunder
tergantung kepada penyebabnya. Jika penyebabnya adalah peradangan, diberikan
corticosteroid dan obat untuk melebarkan pupil. Kadang dilakukan pembedahan.
§ Glaukoma kongenitalis
Untuk mengatasi Glaukoma
kongenitalis perlu dilakukan pembedahan.
2. Terapi Laser
a) Laser
iridotomy melibatkan pembuatan suatu lubang pada bagian mata yang berwarna
(iris) untuk mengizinkan cairan mengalir secara normal pada mata dengan sudut
sempit atau tertutup (narrow or closed angles).
b)
Laser trabeculoplasty adalah suatu prosedur laser dilaksanakan hanya
pada mata-mata dengan sudut-sudut terbuka (open angles). Laser trabeculoplasty
tidak menyembuhkan glaukoma, namun sering dilakukan daripada meningkatkan
jumlah obat-obat tetes mata yang berbeda-beda. Pada beberapa kasus-kasus, dia
digunakan sebagai terapi permulaan atau terapi utama untuk open-angle
glaukoma. Prosedur ini adalah metode yang cepat, tidak sakit, dan relatif aman
untuk menurunkan tekanan intraocular. Dengan mata yang dibius dengan
obat-obat tetes bius, perawatan laser dilaksanakan melalui lens kontak yang
berkaca pada sudut mata (angle of the eye). Microscopic laser
yang membakar sudut mengizinkan cairan keluar lebih leluasa dari kanal-kanal
pengaliran.
c)
Laser cilioablation (juga dikenal sebagai penghancuran badan ciliary
atau cyclophotocoagulation) adalah bentuk lain dari perawatan yang
umumnya dicadangkan untuk pasien-pasien dengan bentuk-bentuk yang parah dari
glaukoma dengan potensi penglihatan yang miskin. Prosedur ini melibatkan
pelaksanaan pembakaran laser pada bagian mata yang membuat cairan aqueous (ciliary
body). Pembakaran laser ini menghancurkan sel-sel yang membuat cairan,
dengan demikian mengurangi tekanan mata.
3. Terapi Pembedahan
a)
Trabeculectomy adalah suatu prosedur operasi mikro yang sulit, digunakan untuk
merawat glaukoma. Conjunctiva adalah penutup bening diatas putih mata.
Filtering bleb adalah suatu area yang timbul seperti bisul yang ditempatkan
pada bagian atas mata dibawah kelopak atas. Sistim pengaliran baru ini
mengizinkan cairan untuk meninggalkan mata, masuk ke bleb, dan kemudian lewat
masuk kedalam sirkulasi darah kapiler (capillary blood circulation) dengan
demikian menurunkan tekanan mata. Trabeculectomy adalah operasi glaukoma yang
paling umum dilaksanakan.
b)
Viscocanalostomy adalah suatu prosedur operasi alternatif yang digunakan
untuk menurunkan tekanan mata. Dia melibatkan penghilangan suatu potongan dari
sclera (dinding mata) untuk meninggalkan hanya suatu membran yang tipis dari
jaringan melaluinya cairan aqueous dapat dengan lebih mudah mengalir. Ketika
dia lebih tidak invasiv dibanding trabeculectomy dan aqueous shunt
surgery, dia juga bertendensi lebih tidak efektif. Ahli bedah kadangkala
menciptakan tipe-tipe lain dari sistim pengaliran (drainage systems).
ASUHAN KEPERAWATAN
A.
Pengkajian
Anamnesa yang dapat dilakukan pada klien dengan katarak
adalah:
1.
Identitas
/ Data Biografi
Berisi nama, usia, jenis kelamin,
alamat, dan keterangan lain mengenai identitas pasien.
2.
Riwayat
penyakit sekarang
3.
Merupakan
penjelasan dari keluhan utama. Misalnya yang sering terjadi pada pasien dengan
katarak adalah penurunan ketajaman penglihatan.
4.
Riwayat
penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit sistemik
yang di miliki oleh pasien seperti DM, hipertensi, pembedahan mata sebelumnya,
dan penyakit metabolic lainnya memicu resiko katarak.
5.
Riwayat
Kesehatan Keluarga
Pada pengkajian klien dengan
gangguan mata ( katarak ) kaji riwayat keluarga apakah ada riwayat diabetes
atau gangguan sistem vaskuler, kaji riwayat stress, alergi, gangguan vasomotor
seperti peningkatan tekanan vena, ketidakseimbangan endokrin dan diabetes,
serta riwayat terpajan pada radiasi, steroid / toksisitas fenotiazin.
B. Diagnosa Keperawatan
- Nyeri b.d peningkatan tekanan intra okuler (TIO) yang ditandai dengan mual dan muntah.
- Gangguan persepsi sensori: penglihatan b.d gangguan penerimaan; gangguan status organ ditandai dengan kehilangan lapang pandang progresif.
- Ansietas b.d faktor fisilogis, perubahan status kesehatan, adanya nyeri, kemungkinan/kenyataan kehilangan penglihatan ditandai dengan ketakutan, ragu-ragu, menyatakan masalah tentang perubahan kejadian hidup.
- Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan b.d kurang terpajan/tak mengenal sumber, kurang mengingat, salah interpretasi, ditandai dengan ;pertanyaan, pernyataan salah persepsi, tak akurat mengikuti instruksi, terjadi komplikasi yang dapat dicegah.
C.
Intervensi Keperawatan
- Nyeri b.d peningkatan tekanan intra okuler (TIO) yang ditandai dengan mual dan muntah.
Tujuan: Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria hasil:
1) Pasien mendemonstrasikan pengetahuan akan
penilaian pengontrolan nyeri
2) Pasien mengatakan nyeri berkurang/hilang
3) Ekspresi wajah rileks
Intervensi:
1) Kaji tipe intensitas dan lokasi nyeri
2) Kaji tingkatan skala nyeri untuk menentukan
dosis analgesic
3) Anjurkan istirahat ditempat tidur dalam
ruangan yang tenang
4) Atur sikap fowler 300 atau dalam
posisi nyaman.
5) Hindari mual, muntah karena ini akan
meningkatkan tio
6) Alihkan perhatian pada hal-hal yang
menyenangkan
7) Berikan analgesik sesuai anjuran
2. Gangguan persepsi sensori:
penglihatan b.d gangguan penerimaan; gangguan status organ ditandai dengan
kehilangan lapang pandang progresif.
Tujuan: Penggunaan penglihatan yang
optimal
Kriteria Hasil:
1) Pasien akan
berpartisipasi dalam program pengobatan.
2) Pasien akan
mempertahankan lapang ketajaman penglihatan tanpa kehilangan lebih lanjut.
Intervensi:
1) Pastikan derajat/tipe
kehilangan penglihatan.
Rasional: Sementara intervensi dini
mencegah kebutaan, pasien menghadapi kemungkinan/mengalami pengalaman
kehilangan penglihatan sebagian atau total.
2) Dorong
mengekspresikan perasaan tentang kehilangan/ kemungkinan kehilangan
penglihatan.
Rasional: Mempengaruhi harapan masa
depan pasien dan pilihan intervensi.
3) Tunjukkan pemberian
tetes mata, contoh menghitung tetesan, menikuti jadwal, tidak salah dosis.
Rasional: Mengontrol TIO, mencegah
kehilangan penglihatan lanjut.
4) Lakukan tindakan
untuk membantu pasien yang mengalami keterbatasan penglihatan, contoh, kurangi
kekacauan,atur perabot, ingatkan memutar kepala ke subjek yang terlihat;
perbaiki sinar suram dan masalah penglihatan malam.
Rasional: Menurunkan bahaya keamanan
b/d perubahan lapang pandang atau kehilangan penglihatan dan akomodasi pupil
thd sinar lingkungan
5) Kolaborasi obat
sesuai dengan indikasi.
Rasional: Memisahkan badan siliar dr
sclera untuk memudahkan aliran keluar akueus humor.
3. Ansietas b.d faktor fisilogis,
perubahan status kesehatan, adanya nyeri, kemungkinan/kenyataan kehilangan
penglihatan ditandai dengan ketakutan, ragu-ragu, menyatakan masalah tentang
perubahan kejadian hidup.
Tujuan: Cemas hilang atau berkurang
Kriteria Hasil:
1) Pasien tampak rileks
dan melaporkan ansitas menurun sampai tingkat dapat diatasi.
2) Pasien menunjukkan
ketrampilan pemecahan masalah.
3) Pasien menggunakan
sumber secara efektif.
Intervensi:
1) Kaji tingkat ansitas,
derajat pengalaman nyeri/timbul nya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi
saat ini.
Rasional: Faktor ini mempengaruhi
persepsi pasien terhadap ancaman diri, potensial siklus insietas, dan dapat
mempengaruhi upaya medik untuk mengontrol TIO.
2) Berikan informasi
yang akurat dan jujur.
Rasional: Menurunkan ansiets b/d
ketidak tahuan / harapan yang akan datang dan memberikan dasar fakta untuk
membuat pilihan info ttg pengobatan.
3) Dorong pasien untuk
mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan.
Rasional: Memberi kesempatan pasien menerima
situasi nyata, mengklarifikasi salah konsepsi dan pemecahan masalah.
4) Identifikasi
sumber/orang yang menolong.
Rasional: Memberikan keyakinan bhw
pasien tdk sendiri dlm menghadapi masalah.
4. Kurang pengetahuan (kebutuhan
belajar) tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan b.d kurang terpajan/tak
mengenal sumber, kurang mengingat, salah interpretasi, ditandai dengan
;pertanyaan, pernyataan salah persepsi, tak akurat mengikuti instruksi, terjadi
komplikasi yang dapat dicegah.
Tujuan: Klien mengetahui tentang
kondisi,prognosis dan pengobatannya.
Kriteria Hasil:
1) Pasien menyatakan
pemahaman kondisi, prognosis, dan pengobatan.
2) Mengidentifikasi
hubungan antar gejala/tanda dengan proses penyakit.
3) Melakukan prosedur
dengan benar dan menjelaskan alasan tindakan.
Intervensi:
1) Diskusikan perlunya
menggunakan
identifikasi,
2) Tunjukkan tehnik yang
benar pemberian tetes mata.
Rasional: Meningkatkan keefektifan
pengobatan. Memberikan kesempatan pasien menunjukan kompetensi dan menanyakan
pertanyaan.
3) Izinkan pasien
mengulang tindakan.
4) Kaji pentingnya
mempertahankan jadwal obat, contoh tetes mata. Diskusikan obat yang harus
dihindari, contoh midriatik, kelebihan pemakaian steroid topikal.
Rasional: Penyakit ini dapat di
control dan mempertahankan konsistensi program obat adalah control vital.
Beberapa obat menyebabkan dilatasi pupil, peningkatan TIO dan potensial
kehilangan penglihatan tambahan
5) Identifikasi efek
samping/reaksi merugikan dari pengobatan (penurunan nafsu makan,
mual/muntah, kelemahan, jantung tak teratur, dll).
Rasional: Dapat mempengaruhi rentang
dari ketidak nyamanan sampai ancaman kesehatan berat.
6) Dorong pasien membuat
perubahan yang perlu untuk pola hidup.
Rasional: Pola hidup tenang
menurunkan respon emosi thd stres, mencegah perubahan okuler yang mendorong
iris kedepan, yang dpt mencetuskan serangan akut.
7) Dorong menghindari
aktivitas,seperti mengangkat berat/mendorong, menggunakan baju ketat dan
sempit.
Rasional: Dapat meningkatkan TIO
yang mencetuskan serangan akut.
8) Diskusikan
pertimbangan diet, cairan adekuat dan makanan berserat.
Rasional: Mempertahankan konsistensi
feses untuk menghindari konstipasi.
9) Tekankan pemeriksaan
rutin.
Rasional: Untuk mengawasi kemajuan
penyakit dan memungkinkan intervensi dini dan mencegah kehilangan penglihatan
lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges,
Marilyan E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Alih bahasa: I Made Kariasa.
Jakarta . EGC
Long,
C Barbara. 1996.Perawatan Medikal Bedah : 2.Bandung. Yayasan Ikatan Alumni
Pendidikan Keperawatan Pajajaran
Luckman&Sorensen.1980.Medical-Surgical
Nursing a Psychophysiologic Approach.United States of America: W.B. Sunders
Company (1986-1990)
Herman.2010.Prevalensi kebutaan akibat glaukoma di kabupaten
tapanuli selatan(hal 2).Available from
http:repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6399/1/10E00177.pdf (diakses 10
oktober 2010)
Barbara,dkk.1999.Medical-Surgical
Nursing.United States of America: Lippincott(642-645)
Marilynn,
dkk.1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3.Jakarta : EGC
Ilyas,
sidarta. 2009. Dasar-dasar pemeriksaan dalam ilmu penyakit mata. Edisi
3. Jakarta:Balai Pustaka.
Ilyas,
sidarta. 2009. Ilmu penyakit mata. Jakarta : Balai penerbit FKUI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar